Tuesday, December 6, 2016

Jutaan Peserta Aksi 212 Tiba-Tiba Hilang Bagai Ditelan Bumi, Kapolri Bingung dan Tak Percaya



Nasional ~ Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyatakan bahwa aksi damai 2 Desember 2016membuatnya sempat bingung dan sempat tidak percaya.

Sebab, begitu Salat Jumat selesai pukul 13.00 WIB, massa yang jumlahnya jutaan orang betul-betul pulang dengan damai setelah Salat Jumat.

"Saya sendiri bingung, saat berpatroli pada pukul 17.00 WIB, massa yang jumlahnya jutaan orang itu tiba-tiba hilang seakan diserap oleh bumi," kata Tito di depan Komisi III DPR RI, Senin (5/12/2016) sore.

Meskipun ada sebagian kelompok yang datang ke Bundaran HI setelah aksi selesai, namun hal itu memang sengaja dibiarkan karena jumlahnya tidak banyak dan suasananya sangat damai.

Menurut Tito, tenggat berakhir demo hingga pukul 13.00 WIB adalah permintaan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) sendiri.

Kepolisian, kata Tito, sebetulnya menyiapkan kesempatan bagi para peserta aksi hingga pukul 16.00 WIB.

Namun, saat itu pihak GNPF justru ingin jadwal dipercepat hingga Salat Jumat selesai sekitar pukul 13.00 WIB.

Mereka, menurut Tito, mengaku trauma dengan peristiwa 4 November 2016 lalu yang sedikir ternoda oleh bentok pada malam harinya.

Mereka menegaskan, kegiatan mereka murni penyampaian aspirasi terkait kasus hukum terhadap Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

"Mereka tidak ingin seperti peristiwa kemarin. 'Itu akan menodai agama Islam. Kami betul ingin sampaikan aspirasi. Kalau susah pada negara, aspirasi kami sampaikan pada Tuhan'," kata Tito menirukan ucapan perwakilan aksi.

Padahal, lanjut Tito, jika melihat psikologi massa, dengan jumlah yang sebanyak itu, tingkat kerawanan sangat luar biasa tinggi. Sebab, jika ada satu orang saja yang memicu kerusuhan, massa akan sangat sulit dikendalikan.

Oleh sebab itu, pengamanan ekstra diberlakukan Polri. Ini termasuk menyediakan pengeras suara agar mereka tak melakukan orasi menggunakan mobil-mobil komando.

Dengan menyiapkan pengeras suara, maka sumber suara hanya satu dan panggung menjadi magnet pusat komando.

"Jadi kami hadir di sana bukan untuk populer tapi mengendalikan mereka yang sudah berkomitmen dengan kami, yang berdialog dengan mereka. Sehingga semuanya betul-betul berjalan sesuai rencana," imbuhnya.

Sumber Tribunnews.com

Curahan Hati Ibu Rumah Tangga "Saya Tersinggung dengan Sari Roti"


Seorang ibu rumah tangga menuliskan kegelisahannya tentang beredarnya surat pengumuman produsen roti ternama Sari Roti. Tepatnya, tentang blundernya klarifikasi produk. Nama ibu itu Nurliani Ummu Nashifa Zhafira.

"Baru melihat saya klarifikasi sebuah perusahaan cukup besar di negeri ini. Padahal yang lihat itu postingan juga hampir semua paham. Tukang roti dengan merk ternama itu, kemungkinan besar menuliskan kata "gratis" karena diborong oleh donatur. Atau tukang rotinya secara pribadi menyumbang. Kalaupun iya, tukang roti menyumbang, itupun saya rasa haknya. Dan pastinya akan tetap membayar full ke perusahaan. Terus kenapa jadi emosional begitu, mereka buru-buru klarifikasi?" kata Nurliani. 

Dengan adanya klarifikasi ini, kata dia, malah bikin blunder. "Pakai embel-embel, mendukung keutuhan NKRI, tidak terlibat aktivitas politik," kata dia.

Sebagai seorang pelanggan, lanjut dia jujur sebagai pelanggan yang kemarin hadir di aksi damai 212. 

"Saya merasa tersinggung. Miris bacanya. Apakah iya, saya ini yang hadir dianggap merusak keutuhan NKRI? Duh, nggak pernah kepikiran. Kaitan sama politik? Hello, kalau cuma itu, duh saya rasa yang hadir nggak akan sebanyak ini. Dari seluruh penjuru daerah," tegas ibu beranak empat ini. 

Ia mengatakan perusahaan yang produknya dibeli, kemudian digratiskan itu banyak sekali. "Mereka nggak repot tuh pakai klarifikasi segala. Itu mah biasa. Biasa aja dalam dunia bisnis. Produknya dibeli terus disumbangkan."

Malahan, kata dia, kalau ketemu perusahaan yang pakai klarifikasi menunjukkan cara marketing yang salah. "Offside sekali. Rasanya ingin mengakhiri kebersamaan dengan mu Sa*Ro* tentu menjadi pilihan yang harus segera kuambil. Masih banyak pilihan lain, saya rasa. Dibalik wajah 'kenetralan'mu, sesungguhnya telah menunjukkan 'keberpihakan' yang nyata. Jadi bye-bye roti tawar tetot, tetot!"

Aksi 212 di Mata Konsultan Singapore: "How amazing is it.."



Jum'at (2/12/2016) pagi jam 10:00 di kawasan Marina Bay Singapore, saya meeting dengan Jonathan, partner bisnis saya, seorang Cina Singapore beragama Katolik...

Dia Doktor lulusan salah satu Universitas terbaik di USA, dia mantan banker yang sekarang jadi konsultan keuangan untuk investor Timteng yang bergerak di dunia penerbangan...

Sebelum meeting, tiba2 dia nanya ke saya:"Bukankah di Jkt sekarang lagi ada demo besar2an 212..Pak Nur.?"

"Oh kamu tahu juga ya..?" Begitu ujar saya..ternyata dia tahu dari media masa di Singapore...

Saya lantas menunjukkan TV live streaming di Android saya.. yang memperlihatkan jutaan manusia berjubel di Monas dan jalan protokol di sekitarnya, serta nyambung dgn lautan manusia yg tumpah ruah di bundaran BI.

"How amazing is it.." begitu komentar Jo setengah tak percaya.. "Berapa banyak manusia kah ini? Sy perkirakan antara 2-4 juta jiwa.. Ini sdh lebih dari separo penduduk Singapore (5,5 juta jiwa)..," ujarnya menjawab pertanyaannya sendiri."...

Nah sebagai seorang "profesional" yg selalu bekerja secara terencana dan sistematis.. dia lantas melempar rentetan pertanyaan:

"Berapa lamakah perencanaan demo ini.?"
"Siapakah yg mimpin demo ini.?"
"Gimana cara komunikasi antara pemimpin dan peserta demo.?"
"Gimana ngatur transportasinya.?"
"Gimana ngatur logistiknya.?"
"Gimana ngatur fasilitas pendukungnya (ambulans, toilet dll).?"
"Gimana ngatur tempatnya.?", dst..dst..

Saya hanya bisa menggeleng sambil berucap: "Saya nggak tahu Jo"...

Lantas Jo pun bergumam sambil geleng2 kepala:"Saya nggak percaya, ada org/organisasi dimanapun di dunia ini (note: dia sering melanglang buana) yg sanggup menggerakkan org sebanyak itu..dlm waktu singkat... impossible! Pasti ada kekuatan besar diluar manusia yg menggerakkannya," ujarnya.

Diskusi kamipun beralih ke alasan dan penyebab demo.. Rupanya si Jo ini tau juga dari media masa Singapore, bahwa ini merupakan rentetan unjuk rasa umat muslim Indonesia akibat kasus penistaan agama

Monday, December 5, 2016

KAMI BERSUJUD DIATAS AIR



Seharian itu kami sibuk mempersiapkan aksi 212. Sorenya sampai malam kami menyambut santri mafaza dr cabang yg lain, jg dr bandung. 

Ba'da shalat subuh takbir bergema menggetarkan setiap sudut pesantren mafaza. Semua santriwati berbaris dlm shaf yg rapih. Langkahnya penuh keyakinan. Alhamdulillah kami mendapatkan 3 bus. Dua hasil sewa, dan satu lagi hadiah dr Daarut Tauhiid Bogor. Terima kasih atas bantuan sahabat FB yg dgn sumbangannya memuluskan semua santri ikut aksi bela qur'an.

Begitu masuk tol sentul Selatan, jalanan penuh dg Bis Bis besar yg mengangkut jama'ah Adzikra. Kami saling melempar senyum dan melambaikan tangan. Perasaan akrab langsung menyeruak, meski kami tak saling kenal dan duduk dalam bis terpisah.

Memasuki Jakarta, jalanan semakin penuh. Penumpangnya memakai baju serba putih dan ikat kepala merah putih. Kami tak henti2nya melambaikan tangan dan berbagi wajah ramah. Mobil mobil mewah bertuliskan LOGISTIK 212 ikut melaju pelan. Rasanya jalanan seperti dipenuhi keluarga besar.

Bis kami berhenti di tanah abang pd jam 9 pagi. Semua santri turun dan segera disergap warga sekitar, mereka menawarkan minuman dan aneka makanan. Kami menolak dg halus. Bhw kami baru saja sarapan di bis. Seorang ibu bersahaja menangis, ia ingin makanannya diterima para santri pejuang

Perjalanan kami terhenti di perempatan thamrin. Disana jalanan sdh penuh sesak dg pasukan putih dr berbagai penjuru. Kami segera menggelar sajadah dan duduk menyimak orasi tokoh2. Tanpa dikomando, jutaan manusia begitu tertib bersila, terutama saat K. H. Arifin Ilham memimpin do'a. Kami semua ikut terbang dlm setiap doa yg dipanjatkan. Saya mengaminkan dg penuh kesungguhan saat ust yg lemah lembut ini merintih: "ya Allooh..turunkanlah hujan sbg tanda do'a kami kau ijabah.."

Usai do'a, kami semua tetap patuh bersila disejadah kami, menyimak ceramah para ulama, ust HNW dan Habaib. Lalu kami semua tenggelam dlm surat al kahfi yg dilantunkan syeikh Ali Jaber.

Dada kami tiba2 bergemuruh dibakar orasi ust Bachtiar Nasir. Saat belau menyampaikan bhw.. Kita adlh kaum baru yg lemah lembut terhadap sesama muslim dan tegas kepada kafir!. Iya benar. Sepanjang jalan kami merasakan segala macam bentuk perhatian dan kasih sayang sesama muslim. Namun pd saat yg sama, kami merasa siap mengorbankan jiwa raga utk menunjukkan ketegasan kpd org2 kafir.

Tensi mereda saat A'Agym naik podium. Dgn gaya candanya yg khas, Aa berhasil membuat wajah kami semua kembali berseri meski matahari mulai panas. Kami banyak tertawa meski udara makin menyengat. Namun Aa Gym mengingatkan bhw kita jgn sekali kali terpedaya oleh jmlh yg banyak. Sebab kemenangan tdk akn didapatkan oleh jmlh yg banyak, melainkan oleh pertolongan Alloh.

Menjelang adzan saya mulai resah krn sulitnya mendapatkan tempat berwudlu, posisi saya terjebak ditengah jutaan manusia. Saya ijtihad bertayamum. Mengambil debu dr sajadah dan tas ransel. Tiba2 gerimis turun..bersamaan dg itu, terdengar seruan ust Bachtiar Nasir "Saudara2... Alloh telah menurunkan air dr langit utk mensucikanmu. Gunakanlah utk berwudlu".. Subhanalloh, alangkah indahnya pemandangan itu, jutaan kaum muslimin berwudlu dg air hujan yg mengguyur mereka. Lihatlah pemandangan itu.. 7,4 juta manusia menyelesaikan wudlu ditempat yg sama secara bersamaan dlm waktu 5 menit.

Dan bukankah td kami semua mengaminkan doa ust arifin yg meminta hujan sbg tanda di ijabahnya doa doa kami.

Sejurus kemudian kami semua, dr org no satu di Indonesia, pejabat elit, panglima tertinggi sampai rakyat jelata sdh duduk dgn tabah, menyimak khotbah habib riziq dibawah guyuran hujan yg penuh barokah. Tak ada satupun yg bergeming dr sajadahnya yg basah.

Selesai khutbah, berjuta juta manusia ini berdiri serentak dg rapih tanpa komando. Kami tetap bahagia dg hujan, kali ini dlm shalat. Saat qunut nazilah dipanjatkan, 7,4 juta manusia ini menyatu dlm kekhusyu'an.. Kami menangis dlm untaian do'a do'a. Merasa pedih atas dosa dosa diri. Merasa sesak dg kondisi negeri. Dan tangisan kami pecah saat nama saudara kami di rohingya disebut... Oh Alloh.. Alangkah tak bergunanya hidup ini jika tak bisa membebaskan saudara seiman dr cengkraman kekejian kaum kafir.

Lalu kami berlutut disajadah kami yg tenggelam 5 cm dibawah genangan hujan. Dan kami bersujud di atas air. Ah nikmat.. Nikmat sekali. Wahai Alloh.. Masukan kami kedalam golongan org-org yg mereguk telaga al kautsar...agar bisa berjumpa dg kekasih kami, Rasulullah

Saat bangkit dari sujud, air mengucur dr rambut2 kami yg tertunduk.. Dan kami semua bergumam..
Ya Alloh.. Ampunilah aku
Sayangilah aku
Tutupilah aib aibku
Angkatlah derajatku
Berilah aku rizki
Berilah aku petunjuk
Sehatkanlah aku
Maafkanlah aku

Ini adalah shalat jumat kami yg paling nikmat. Berdiri dibawah guyuran hujan. Duduk diatas sajadah yg tergenang, dan sujud diatas air. Usai shalat jum'at kami merasa kurang.. Maka hampir semua kembali berdiri shalat. Jama' takdim.

Kami pulang berdesakan. Namun tertib dan berjalan perlahan. Di sepanjang jalan orang2 kembali sibuk menawarkan minuman, makanan hingga permen. Sebagian menyodorkan kantong plastik, mempermudah kami membuang sampah.

Alangkah nikmatnya persaudaraan iman. Lebih2 saat di ikat perjuangan. Kini saya mengerti, kenapa para mujahid itu lbh hebat itsarnya..

Note :
Mhn izin bg siapa saja pemilik foto 

Jasad yang terpisah kawat berduri

Fathi Nasrullah

Pak polisi,
Jasad kita memang terpisah kawat berduri
Memang kadang kita bertikai
Bapak ngeselin
Kami ngeselin

Tapi iman kita satu
Hati kita satu
Kiblat kita satu
Tuhan kita satu
Nabi kita satu
Negeri kita pun satu

Jadi mari pak
Berbaikan lagi
Jangan ada dendam
Bareng-bareng kita jaga agama ini
Iman ini
Negeri ini
Dari segala bentuk musuh

Baju kalian kemarin itu coklat
Kami putih
Yang sama hanya aspal hitam dibawah telapak kaki
Juga harapan

Semoga Allah melindungi bapak, Kami, Dan seluruh ummat Islam yang mengaku bertanah air satu
Berbangsa satu
Berbahasa satu

Indonesia

Foto by : Fitria Kurniawan

Moment paling masyaAllah saat aksi 212.


 Saat jemaah sholat dibawah guyuran hujan. Dan mereka tidak beranjak 1cm pun. Bahkan ada yg menggigil tetap stay. Tak berhenti air mata ini. Malahan tadi ada bapak2 yg baru selese operasi, tetap berada diabawah atap langit ini menunaikan kewajibannya sebagai hamba Allah.
Dan sekali lagi. Semoga ini menjadi salah satu amalan unggulan kami kelak saat Yaumul Hisab. Saat ditanya, dimana saya saat Alquran dinistakan, Kami dengan bangga bisa menjawab, kami bersama jutaan hamba Allah dan jutaan rintik hujan menjadi saksiny. Allahu Akbar.
Allah begitu sayang pada hambanya. Bahkan tidak ada satupun jemaah yg melontarkan kesakitan atau kedinginan. Hanya wajah penuh keiklasan terpancar, dan sungguh mereka tergolong hamba yg diridhoi Allah.
Dibayar? No way...
Jika bukan karna keberkahan Allah, jutaan umat Rasullullah tidak akan melangkahkan kakinya ke Monas hanya demi membela 1 ayat Allah. Jika bukan karna Rahmat Allah, tidak akan ada kaki2 yg luka, baju2 yg basah, lidah2 yg basah karna menyebut asma Allah berkumpul berzikir dan berdoa utk negeri ini.
Allahu akbar. Allah Maha Hebat. Semoga Allah selalu sisipkan iman dihati-hati kita. Amin ya Allah

BAGIAN TIDAK TERBERITAKAN DARI #AKSISUPERDAMAI212

Terlepas dari ada di mana posisi anda, 2 Desember 2016 mungkin akan jadi hari yang akan diingat bagi semua pihak di Indonesia (kalau tidak dunia, mungkin juga akhirat?)
Jum’at tanggal 2 kemarin, saya mengantarkan Bapak dan Ibuk saya menuju #AksiSuperDamai212 dari Bandung. Sebelumnya, saya pergi ke aksi tersebut hanya dengan niat mengantarkan Bapak Ibuk, serta rasa penasaran ‘ah masa sih ada hatespeech beneran di aksi damai begitu?’ Kami berangkat dari Bandung sekitar pukul 03.30 pagi, mengendarai mobil pribadi. Berhenti sejenak di sebuah rest area untuk shalat shubuh, dan menemukan banyak Jama’ah yang juga hendak menuju ke Monas. Subuhannya penuh, serasa mudik, hhe.
Singkat cerita, tadinya kami mau menuju Monas melalui jalur Sudirman, tetapi berhubung tol dalam kota sangat macet akibat bus dan kendaraan Jama’ah maka kami mengarah ke Salemba. Sepanjang perjalanan, ternyata kami bersamaan dengan iring iringan FPI, FBR, dan ormas lain. Posisinya ada di kiri jalan, serta terlihat wajah senyum abang FPI seperti di foto di bawah. Berikut sedikit fotonya.
aksi212-6193
Senyum si Abang sembari menyilakan jalan.
Citizen Jornalism
Citizen Journalism
Di perjalanan, kami melewati fly over yang menuju salemba (gue gak tau namanya fly over apa wkwk), dan terlihat kondisi jalan yang amat macet.
aksi212-6216
Macet mengular terlihat dari flyover arah salemba
Berikut ini foto lajur mengarah Salemba.
aksi212-6237
Lajur menuju Salemba, padat oleh bis, mobil, motoris dan pejalan kaki.
Selama perjalanan tersebut, saya tidak sekalipun mendengar kalimat ‘Tangkap Ahok’, ‘Adili Ahok’, atau bahkan yang lebih parah. Memang Jama’ah ada yang membawa poster bertuliskan hal senada, tetapi itu dibawa masing-masing. Poster yang dibagikan adalah poster ‘Aksi Bela Islam III’. Hmm.
Sesampainya di Salemba, kemudian kami memarkirkan kendaraan di Pasar Kenari dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan kaki, kami melihat semangat umat yang bergegas ingin menuju Monas untuk mengamankan tempat shalat, bukan, bukan nafsu amarah. Terlihat Jama’ah yang dengan ramah salim dengan petugas TNI area tersebut sembari menyapa, ‘Assalamu’alaikum pak.’ dan dijawab, ‘Wa’alaikumsalam, semangat ya Pak, Bu.’ Setiap beberapa meter terlihat orang yang membagikan makanan dan minuman gratis, dan sebagian besarnya TIDAK berbaju putih ataupun berseragam ormas. Satpam gedung setempat, pekerja setempat (mungkin ada juga yang dari daerah lain?), ikut membagikan. Ramah dan hangat.
aksi212-6261
Berbagi
Minum dulu~
Minum dulu~
aksi212-6250
Isi tenaga sebelum lanjut jalan dan Jum’atan
Terlihat pula di jalan, Ranger Oranje DKI yang bersiap menuju lokasi tugas tetapi terjebak macet. Tidak apa-apa, bisa sambil merekam aksi yang tidak setahun sekali ini. Selain itu juga terlihat Jama’ah yang bersepeda menuju Monas.
Ranger Oranje
Ranger Oranje
Bersepeda
Bersepeda
Bertelanjang kaki menuju Monas
Bertelanjang kaki menuju Monas
Semakin dekat dengan area Tugu Tani, tersadar kami ternyata serombongan dengan ormas yang katanya beringas, barbar, savage. FPI, HTI, you name it. Ada juga rombongan FBR, FORKABI, Indonesia Tahajjud di antara kami. Biasanya, netizen sering mengatakan jika ada dua ormas pertama tadi siap siap saja mendengar seruan “Ganti NKRI Dengan Khilafah!” atau “Hukum Ahok Kafir Cina.” Nyatanya, TIDAK SATUPUN kalimat itu ataupun senada terdengar. Tidak pula ada catcalling. Hanya takbir dan shalawat yang terus terucap, diselingi ucapan “Silakan sarapan! Roti gratis, kopi gratis, minum dan buah juga!” Bendera hitam putih berkibar beriringan dengan Merah Putih. Bangga dan haru.
Ramai
Ramai
Lihat senyum ibu itu?
Lihat senyum ibu itu?
Merah Putih Berkibar
Merah Putih Berkibar
Dalam perjalanan saya tetap melihat Jama’ah yang dengan ikhlas membagikan, bahkan mengajak ngopi, haha. Berikut fotonya.
aksi212-6282
Wih Bang
aksi212-6284
Salak dan minumnya, a’?
aksi212-6296
Kopi Gratis! (dan roti, tentunya)
Sesampainya di area Tugu Tani, tidak bisa lagi rupanya kami maju ke arah Monas. Ya sudah, jadilah kami menggelar sajadah di area tersebut. Melihat jumlah massa yang sangat banyak (gue nggak mau berdebat soal berapa jumlah pastinya, ya), tentu bagi sebagian orang menjadi saat yang tepat untuk mendokumentasikan momen ini. Sebagian besar Jama’ah berwudhu di sisi taman tugu tani, sebab tidak ada satupun mobil wudhu atau toilet di sekitar sana. Jama’ah wanita berada di sekitar Jama’ah pria.
aksi212-6310
Duet dokum bro~
aksi212-6306
“Kapan lagi foto backgroundnya begini”
Shalat Jum’at dilaksanakan dengan relay langsung dari Monas, sejak Adzan pertama hingga khotbah, begitupun mulai takbiratul ihram hingga qunut yang Subhanallah. Teknisnya saya tidak tahu, jauh dari lokasi speaker, haha. Sepanjang Jum’atan, sejak langit terang hingga hujan angin, tidak ada satu Jama’ah pun yang pindah ataupun mengeluh. Semua disenyumi saja. “Hujan gini mah Rahmat Allah lagi turun dek, ga ape ape dah sini aja. Bedoa,” ujar seorang bapak di sebelah saya.
Menunggu Jum'atan
Menunggu Jum’atan
Bagi saya, tidak ada hal termanis selain bisa melihat Ibuk Bapak saya bersukacita, so excited, sebab melihat ummat yang begitu banyak, dan tidak ada satupun yang berucap benci. Bershalawat, berdo’a, bertakbir. Belum tentu saya bisa membuat mereka bahagia begini (seingat saya, ketika saya wisuda pun tidak sedemikian bahagianya). Air mata saya pun tertumpah bersama hujan. Do’a kami tertiup bersama angin, semoga sampai di hadirat-Mu.
Selesai shalat dan berdo’a, hujan berhenti. Jama’ah pun berangsur balik kanan lalu cari makan (lapar, hhe). Warung dan kaki lima sekitar kwitang ramai dipadati Jama’ah. Alhamdulillah sebuah berkah tersendiri bagi warga. Pun terlihat satgasemergency dari Klaten membagikan roti dan minum.
Sepulangnya, kami melewati area kwitang dalam, kemudian terlihat hal yang … hebat. Tepat di perumahan kumuh sisi sungai Ciliwung, warga berkumpul–mungkin penasaran–seakan menyambut Jama’ah. Di antara warga ada yang rumahnya kurang layak, hanya sebesar los warung, tetapi menuliskan di sobekan kardus “KOPI GRATIS”. Saya tidak yakin beliau dapat dana dari donatur elite global ketika rumahnya lebih memprihatinkan tetapi ikhlas menyediakan kopi gratis. Air panas itu pakai gas, kopinya beli. Tidakkah duitnya lebih baik buat kebutuhan sehari hari saja? Tidak hari ini, bung.
Satu lagi, berikut foto warga ciliwung yang membagikan minum pada Jama’ah. Donatur? Donat madu ena bro (photo credit goes to Bapak).
whatsapp-image-2016-12-03-at-12-06-01
Anak-anak membagikan minum, mantap.
whatsapp-image-2016-12-03-at-12-06-10
Ini juga bagi minum
Mungkin isu bahwa aksi ini merupakan ‘aksi politis berkedok agama’ itu benar. Mungkin juga salah. Mungkin ada agenda besar dibalik ini semua dan kami hanya pion pion. Mungkin juga tidak. Anda bebas memercayai yang anda mau.
Akhir kata, saya memilih memercayai apa yang saya lihat langsung. Bahwa bangsa ini masih punya harapan, bangsa ini masih bisa maju. Syaratnya satu, Respect dan berpikiran terbuka. Saya pun memercayai bahwa sifat baik akan menular, maka respek dan keterbukaan pikiran harus dimulai dari setiap kita (yang katanya lebih punya common sense).
3/12/2016, Bandung.
https://relativeinfinity.wordpress.com/2016/12/03/bagian-tidak-terberitakan-dari-aksisuperdamai212/