*Kenangan 212
KISAH PESERTA AKSI 212 YANG MENGAKU DISUAP 500 RIBU
Minggu lalu suami minta ditemani untuk ikut Aksi Bela Islam 212.
"Berapa aku harus menyuapmu agar mau menemaniku?"
"500 ribu saja."
"Semurah itu...?" tanya dia menggoda.
Aku pun mulai memikirkan jumlah lain yg lbh pantas untuk menyuapku. Ini adalah aksi besar, mosok ia cuma membayarku setengah juta saja..?
"Murah-mu itu akan kujadikan mahal. Kelak 500 ribumu akan jadi saksi tak ternilai atas diriku dan dirimu..."
"500 ribu saja."
"Semurah itu...?" tanya dia menggoda.
Aku pun mulai memikirkan jumlah lain yg lbh pantas untuk menyuapku. Ini adalah aksi besar, mosok ia cuma membayarku setengah juta saja..?
"Murah-mu itu akan kujadikan mahal. Kelak 500 ribumu akan jadi saksi tak ternilai atas diriku dan dirimu..."
Lalu kutukarlah lembaran2 merah itu dengan sepasang sepatu baru, menggantikan sepatu lama yg jahitannya lepas. Dan sedikit sisanya menjadi beberapa potong roti dan minuman yg tersembunyi di dalam ransel basah di foto itu. Koran yg melindunginya telah menjadi remah2.
Sepatu yg kemarin kuyup tertimpa air hujan itu, kemudian menemani perjalananku dari Stasiun Perjuangan Bekasi, Stasiun Juanda, Monas, Gambir, Cikini, dan Stasiun Gondangdia. Kisah perjalanan kaki yg amat singkat jika dibandingkan dengan harus menapakkan kaki dari Ciamis hingga Jakarta.
Sementara roti2 di dalam ransel yg basah tertembus air hujan itu, menjadi roti berbumbu hujan yg ternikmat di dunia.
Sementara roti2 di dalam ransel yg basah tertembus air hujan itu, menjadi roti berbumbu hujan yg ternikmat di dunia.
*Kukatakan pd suami, "Di sepanjang tahun ini, itulah belanja darimu untuk keperluan diriku yg paling berkah.
Saat mulut kita kelak telah terkunci, sepatu dan roti basah itulah yg akan berbicara kepada Rabb-ku tentang perjalananku dan perjalananmu."
Saat mulut kita kelak telah terkunci, sepatu dan roti basah itulah yg akan berbicara kepada Rabb-ku tentang perjalananku dan perjalananmu."
Uang 500 ribu itu, telah menjadi suap terindah yg bisa dilakukan manusia kepada manusia lainnya."
sumber : FB agi betha

No comments:
Post a Comment